Untuk Rumah Kecil. oleh : Puspa Sendu Maaf jika selama ini semua orang hanya memuji betapa kuatnya kamu berdiri, tanpa pernah bertanya seberapa kencang angin yang harus kamu hadapi. Maaf jika karena kamu selalu berhasil bertahan, mereka lupa bahwa kamu juga bisa merasa takut. Kamu tidak harus selalu menjadi tempat berteduh. Kamu juga boleh mencari tempat berlindung. Kamu tidak harus selalu menyalakan lampu untuk orang lain. Kamu juga boleh duduk dalam cahaya yang diberikan seseorang kepadamu. Dan ketika badai berikutnya datang, semoga kamu tidak hanya menemukan kekuatan untuk bertahan, tetapi juga keberanian untuk membuka pintu dan berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja. Bisakah kamu menemaniku sebentar?” Sebab rumah yang hangat pun berhak merasakan kehangatan. Dan kamu tidak harus menunggu sampai badai mereda untuk layak ditemani.
Rumah Kecil dan Badainya. oleh : Puspa Sendu Press enter or click to view image in full size Ada satu bagian yang terus terngiang di pikiranku: “Padahal ia juga ingin ada yang menahannya.” Aku membayangkan sebuah rumah kecil di tengah pedesaan. Dikelilingi rerumputan hijau, bunga-bunga liar, dan pepohonan yang bergoyang pelan ketika angin datang. Dari luar, rumah itu terlihat sederhana dan tenang. Jendelanya memancarkan cahaya kuning yang hangat, seolah selalu ada tempat untuk pulang. Namun, sesekali badai datang. Angin mengguncang jendelanya. Hujan mengetuk atapnya tanpa henti. Pepohonan di sekitarnya membungkuk, dan rumah itu berusaha bertahan menghadapi semuanya. Badai itu akhirnya berlalu. Rumah itu kembali diam. Atapnya masih berdiri, jendelanya kembali tenang, dan cahaya hangatnya masih menyala. Orang-orang yang melihatnya mungkin akan berkata, “Rumah itu kuat sekali. Lihat, badai sebesar itu pun bisa dilewatinya sendiri.” Namun, mungkin tak banyak yang menyadari bahwa...